Senin, 09 Mei 2016

Corat-Coret Kelulusan SMA, Bagaimana Menyikapinya?



Saat melihat berbagai "kenakalan" anak sekolah selama ini jadi ingat kejadian 12 tahun silam saat saya masih kelas 2 SMA. 

Saya beruntung bisa bersekolah di SMA favorit sekaligus paling berprestasi di kota kelahiran saya, sekolah yang alumninya sudah banyak yang jadi pejabat mulai tingkat kementerian sampai kelurahan, ada yang jadi dai, jadi pengusaha, jadi artis, sampai fotomodel juga ada.

Karena status sekolah terfavorit itulah siswa yang diterima disana juga pilihan. Rata-rata memang "anak baik" yang tak suka macam-macam. Keseharian suasana belajar mengajarnya juga berjalan "lempeng" tanpa aral melintang.

Jarang sekali ada masalah kesiswaan yang dulunya sering sekali saya temui di SMP, dimana teman-teman saya banyak yang berhadapan dengan guru BP karena kenakalan mereka.
Di SMA saya, guru bisa mengajar lebih tenang dan dengan suasana yang sangat kondusif. Satu atau dua siswa "selebor" pasti ada, tapi tak mempengaruhi idealnya suasana belajar mengajar saat itu.

Saya sendiri terkena imbasnya. Jangan harap ada teman-teman alumni SMA saya yang cerita kalau Danang itu narsis, Danang itu pencilak'an, Danang itu pethakilan dan segala macam. Karena saat SMA saya betulan berbeda dengan yang sekarang. Kalem, pendiam dan tak banyak tingkah. Berbeda dengan saat SMP juga. Saat SMP saya masih bisa nakal karena saat itu saya punya banyak teman nakal. 

Di SMA saya juga jarang saya temui siswa bertengkar sampai berkelahi. Pokoknya aman tenteram saat itu. Kalaupun ada "Gonjang-ganjing" justru datangnya dari beberapa oknum guru. Semisal perang dingin antara kepala sekolah yang dianggab arogan dengan guru-guru BP yang hendak menggulingkannya, atau perang Baratha Yuda antara guru Biologi dan guru Bahasa Indonesia yang sudah tersulut dendam kesumat. Bahkan sampai tampar-tamparan dan jambak-jambakan segala.

Para siswa? Tak ada yang tertarik untuk ikut-ikutan terseret konflik. Hanya dijadikan guyonan saja sekilas.

Tapi yang namanya remaja, adakalanya keluar "fitrah" nya ketika mulai bosan dengan rutinitas yang begitu-begitu saja. 

Apakah itu? 

Fitrah kenakalannya.

Seperti biasa, di sebuah sekolah pasti ada guru yang rajin mengajar, ada pula yang malas mengajar mentang-mentang siswa-siswanya sudah mandiri dan pintar-pintar. Saat itu ada satu guru yang memang terbiasa bolos ngajar memberikan tugas untuk mengerjakan LKS beberapa bab. Kebetulan jadwal mata pelajaran beliau adalah 2 jam terakhir di kelas kami, kelas 2-2. Saat jam istirahat pertama kami mendapatkan informasi dari kelas 2-1 kalau jam pelajaran tersebut kosong dan hanya diisi dengan mengerjakan LKS. Dan ternyata jam pelajaran ke-5 dan ke-6 juga kosong. Bahkan tak ada tugas.

Entah karena sudah capek, bosan atau apa, kami sekelas bisa berpikiran sama. Kami merencanakan sesuatu yang tak biasa, sesuatu yang "jahat" dan mungkin guru-guru juga tak akan pernah menyangka kami bisa melakukannya.

Saat jam pelajaran ke-5 dan 6 itulah kami lebih dahulu mengerjakan LKS yang katanya ditugaskan untuk jam kosong tadi. Kami bagi kelas jadi beberapa grup dan kami bagi tugasnya untuk mengerjakan masing-masing bab di buku LKS itu. Tujuannya, agar bisa selesai cepat kalau dikerjakan bersama-sama karena tipe soal abcd. Jadi kami memang ingin tugasnya segera selesai dan bisa benar-benar mengosongkan 2 jam terakhir untuk rencana "jahat" kami.

Saat sudah selesai, semua buku LKS yang sudah selesai dikerjakan itu dikumpulkan oleh ketua kelas di meja guru yang bersangkutan saat jam istirahat kedua. Dan setelahnya 2 jam terakhir, jam ke-7 dan ke-8 betul-betul kosong. 

Nah apa yang kami rencanakan saat itu?
Kami berencana pulang lebih awal alias kabur dari sekolah. 

Biar tidak ketahuan oleh guru yang biasanya berseliweran di balkon sekolah, kami lempar tas kami keluar melalui jendela. Lalu kami bagi kelas menjadi 3 keloter dan keluar secara bergantian. Pura-puranya mau ke kamar mandi yang kebetulan searah dengan jalan keluar. 

Dan betulan berhasil. Kami sekelas bisa kabur dari sekolah tanpa ketahuan. Sekolah yang harusnya baru usai jam 2 siang, jam 12 kami sudah pulang.

Konyol sebetulnya karena hanya terpaut 2 jam saja. Hal semacam ini mungkin juga sudah biasa bagi anak-anak nakal di sekolah lainnya. Bahkan lebih parah mereka. Tapi ini asli dilakukan oleh anak-anak SMA favorit yang kesehariannya nurut, tidak macam-macam dan bertingkah baik. Dan ajaibnya dilakukan sekelas dari yang paling "nakal" sampai yang paling alim. 

Ya karena fitrah itu tadi. Fitrah kenakalan remaja. Anak terpintar, teralim, paling nurut dan paling cerdas sekalipun di dalam dirinya pasti tersimpan keinginan untuk "berontak" meskipun sekali dua kali. Ingat, masa remaja adalah masa pencarian jati diri.

Jadi menyikapi "kenakalan" anak sekolah beberapa waktu ini, yang saat kelulusan corat-coret baju sekolah, saya rasa wajar kalau dilihat dari sudut pandang keremajaan mereka. Pikiran mereka yang masih dipenuhi hura-hura dan euforia kebahagiaan ala remaja, mengalihkan fokus mereka pada masa depannya. Seperti bagaimana kelanjudan studi atau pekerjaan mereka. 

Tak sepenuhnya kesalahan mereka juga.

Jadi kalau kemudian hanya sekedar dihujat dengan analogi "Mereka belum merasakan skripsinya dicorat-coret dosen pembimbing!" Ya tak akan berpengaruh bagi mereka. Karena mereka akan tetap berpikir, "Itu masalah nanti ya dipikir nanti. Yang sekarang biarkan saja." 

Pola pikir yang sudah "terlanjur" semacam itu di benak anak-anak sekolah akan sulit ditanggulangi secara halus, apalagi secara kasar dengan hujatan lisan. Jiwa berontak ala remaja mereka pasti akan keluar.

Upaya yang seharusnya dilakukan adalah upaya preventif, pencegahan sejak dini dengan penanaman sifat efektif efisien dalam berkehidupan sosial bagi anak-anak sekolah itu. Jadi tentang bagaimana mengarahkan orientasi mereka ke jalur yang lebih baik. 

Salah satunya tentang kebiasaan corat-coret baju sekolah dan konvoi di jalanan saat usai acara kelulusan. Peran orangtua dan sekolah sangat signifikan dalam hal ini. Bagaimana orangtua mendidik dan mengasuh anaknya di rumah dan bagaimana sekolah mendidik dan mengendalikan perilaku siswa itu. Bagaimana kebiasaan tak bermanfaat satu ini bisa dihilangkan jika orangtua sendiri tak peduli dan sekolah juga tak mencegah? 

Alangkah baiknya jika dimulai dari pendidikan di rumah oleh orangtua dan pendidikan di luar rumah oleh pihak sekolah, tentang bagaimana mengarahkan anak-anak sekolah itu ke hal-hal yang lebih efektif dan berguna.

Alhamdulillah SMA saya termasuk yang mencegah kegiatan yang kurang manfaat itu. Caranya dengan mengunci gerbang sekolah, tak membiarkan siswanya pulang awal, dan memberikan kegiatan lain berupa pengadaan acara semacam pesta perpisahan yang diisi berbagai lomba, penampilan karya seni dll.

Contoh kegiatan bagus untuk merayakan kelulusan yang lain, yang akhir-akhir ini banyak dishare netizen sebagai bahan pembanding adalah yang dilakukan oleh SMAN 3 Yogyakarta. Sekolah tersebut berhasil menciptakan tradisi turun temurun perayaan kelulusan dengan syukuran. Dan syukurannya dirayakan dengan bagi-bagi nasi bungkus ke masyarakat yang membutuhkan di sekitar SMAN 3 Yogyakarta. Lebih bermanfaat dan lebih memperlihatkan jiwa sosialnya kan?

Bisa jadi contoh untuk yang lainnya. Bisa dengan kreativitas dan inovasi masing-masing. Dan tentu saja, jangan hanya dibebankan ke siswa, tapi orangtua juga harus mendukung dan pihak sekolah juga harus memfasilitasinya. Perubahan itu tak akan terjadi begitu saja tanpa semua pihak bekerjasama.

^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar